DOKUMENTASI

Rabu, 25 Oktober 2023

DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH TA'ALA

 DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH TA'ALA


بسم الله الرحمن الرحيم


Allah ta'ala berfirman di dalam Al Quran :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [محمد : 7]


Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [ QS Muhammad : 7 ]


Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan dalam tafsirnya Taisiru Al karim Ar rohman Fii Tafsir kalaamilmannaan,hal 785 terbitan muassasah ar risalah :


هذا أمر منه تعالى للمؤمنين، أن ينصروا الله بالقيام بدينه، والدعوة إليه، وجهاد أعدائه، والقصد بذلك وجه الله، فإنهم إذا فعلوا ذلك، نصرهم الله وثبت أقدامهم، أي: يربط على قلوبهم بالصبر والطمأنينة والثبات، ويصبر أجسامهم على ذلك، ويعينهم على أعدائهم، فهذا وعد من كريم صادق الوعد، أن الذي ينصره بالأقوال والأفعال سينصره مولاه، وييسر له أسباب النصر، من الثبات وغيره.


Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di -rohimahumullah  ta'ala - dalam tafsirnya : 

"Ini adalah perintah dari Allah ta'ala terhadap orang-orang beriman agar menolong agama Allah dengan cara menegakkan agama Allah, mendakwahkan agama Allah, memerangi musuh-musuh Allah dengan disertai niat mencari wajah Allah ta'ala. Kalau mereka melakukan hal tersebut maka Allah akan menolong mereka dan menguatkan posisi mereka yaitu dengan menguatkan hati mereka dengan kesabaran, ketenangan,keteguhan dan kesabaran pada fisik mereka di atas hal tersebut serta akan menolong mereka mengalahkan musuh-musuh mereka. Inilah janji Allah yang Maha mulia yang benar akan janjinya bahwasanya orang yang menolong agama Allah dengan perkataan dan perbuatan maka Allah ta'ala akan menolongnya dan memudahkan baginya mendapatkan sebab-sebab kemenangan berupa keteguhan dan selainnya".


Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang menegakkan syariat allah baik secara aqidah,ibadah,muamalah dan semua hal yang terkait dengan hukum Allah. 

Dan hukum Allah yang paling agung yang harus kita tegakkan pertama kali adalah tauhid dalam beribadah kepada Allah ta'ala dan meninggalkan perkara kesyirikan.


Allah ta'ala berfirman :


إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [يوسف : 40]


Keputusan [perintah dan larangan] itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"

[ QS Yusuf: 40 ]


Semoga Allah ta'ala meberikan Taufiq dan kemudahan bagi kita dalam menjalankan Syariat-Nya. 


Penulis : 

Juantara 

[ Alumnus KUSA safwa University ]

Srandakan,10 Robi'ulakhir 1445 H/25 Okt 2023 M

Jumat, 13 Oktober 2023

SYARAT AMAL SHOLIH

 



بسم الله الرحمن الرحيم


HUKUM ASAL IBADAH ADALAH TERLARANG


Kaidah ini adalah kaidah yang dicetuskan oleh para ulama melalui penyimpulan dalil - dalil syar'i. 

Seperti yang disampaikan oleh Syaikhuislam Ibnu Taimiyyah -rohimahullahu ta'ala - berikut ini :


قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :


"فَباسْتِقْرَاءُ أُصُولِ الشَّرِيعَةِ نعلَم أَنَّ الْعِبَادَاتِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ أَوْ أَحَبهَا لَا يَثْبُتُ الْأَمْرُ بِهَا إلَّا بِالشَّرْعِ ، وَأَمَّا الْعَادَاتُ فَهِيَ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ فِي دُنْيَاهُمْ مِمَّا يَحْتَاجُونَ إلَيْه ،. وَالْأَصْلُ فِيهِ عَدَمُ الْحَظْرِ ، فَلَا يَحْظُرُ مِنْهُ إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ، وَذَلِكَ ؛ لِأَنَّ الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ هُما شَرَع اللَّهُ تَعَالَى ، وَالْعِبَادَةُ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ مَأْمُورًا بِهَا ، فَمَا لَمْ يَثْبُتْ أَنَّهُ مَأْمُورٌ كَيْفَ يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِأَنَّهُ عِبَادَةٌ ؟ وَمَا لَمْ يَثْبُتْ مِنْ الْعَادَاتِ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ كَيْفَ يُحْكَمُ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَحْظُورٌ ؟


وَلِهَذَا كَانَ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ مِنْ فُقَهَاءِ الْحَدِيثِ يقُولُون : إَنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ ، فَلَا يُشْرَعُ مِنْهَا إلَّا مَا شَرَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ : ( أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ) وَالْعَادَاتُ الْأَصْلُ فِيهَا الْعَفْوُ ، فَلَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِه ِ: ( قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا ) . وَلِهَذَا ذَمَّ اللَّهُ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ شَرَّعُوا مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ، وَحَرَّمُوا مَا لَمْ يُحَرِّمْهُ" انتهى .


"مجموع الفتاوى" (29/16-17) .


"Dengan meneliti dasar-dasar dalam syariat maka kita akan mengetahui bahwasanya ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah atau yang dicintai Allah tidak boleh ditetapkan kecuali adanya penjelasan syariat, adapun perkara adat yaitu kebiasaan manusia yang mereka butuhkan dalam perkara dunia mereka hukum asalnya adalah tidak terlarang/mubah sehingga tidak boleh dilarang kecuali apa yang dilarang Allah dan Rosul-Nya.Demikian itu dikarenakan perintah dan larangan itu adalah syariat Allah ta'ala,adapun dalam masalah Ibadah harus ada perintah syariat padanya,maka ibadah yang tidak diperintahkan syariat bagaimana bisa disebut ibadah? 

Dan dalam masalah kebiasaan manusia dalam urusan duniawi yang tidak ada larangan dari syariat maka bagaimana dihukumi terlarang?


Oleh karena itu Imam Ahmad dan selainnya dari para ahli hadits berkata :


إن الأصل في العبادات التوقيف فلا يشرع منها إلا ما شرعه الله تعالى


Sesungguhnya hukum asalnya ibadah itu adalah menunggu datangnya dalil sehingga tidak boleh disyariatkan kecuali diperintahkan oleh Allah ta'ala. 

Karena jika tidak begitu maka kita akan termasuk dalam ancaman Allah ta'ala :


أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ [الشورى : 21]


"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih." 

[QS Asy Syuro : 21]


Adapun kebiasaan adat duniawi hukum asalnya adalah boleh tidak dilarang kecuali jika ada larangan dari Allah ta'ala. Kalau tidak begitu kita bisa masuk kepada ancaman Allah ta'ala :


قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ [يونس : 59]


Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?"

[ QS Yunus : 59 ]


oleh karena itu Allah ta'ala mencela kaum musrikin yang membuat aturan agama yang tidak ada izin dari Allah ta'ala dan mereka mengharomkan apa yang tidak Allah ta'ala  haromkan. 

Majmu'Fatawa [ 16/17-29 ]


Dengan ini tatkala kita menginginkan adanya pahala dari ibadah kita maka sudah seharusnya kita meneliti terlebih dahulu apakan ibadah itu dituntunkan dalam syariat kita ataukah tidak? Semua itu dengan cara mendalami hukum-hukum syar'i.


Semoga Allah ta'ala memberikan kita taufiq dalam beramal di atas ilmu. Aamiin. 


Juantara

Srandakan,28 Robi'ulawwal 1445 H/ 14 Okt 2023 M

DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH TA'ALA

 DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH TA'ALA بسم الله الرحمن الرحيم Allah ta'ala berfirman di dalam Al Quran : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا...