DOKUMENTASI

Kamis, 12 Mei 2022

HUKUM TIDAK MENGIKUTI MADHAB YANG EMPAT


 Faidah pertanyaan & jawaban Syaikh Abdulaziz bin abdillah bin Bazz rohimahullahu ta'ala 


Hukum tidak mengikuti madzhab yang empat


Pertanyaan :

"Telah muncul sebuah fakta dari kalangan para pemuda dimana mereka berkata : "Kami tidak mengikuti sedikitpun dari pendapat madzhab yang empat namun kami akan berijtihad seperti mereka dan kami akan beramal sebagaimana mereka beramal dan kami tidak akan melihat kepada ijtihad mereka".

Maka bagaimana pandangan anda tentang hal ini? dan apa nasihat anda kepada mereka? 


Jawab :

"Perkataan ini terkadang adalah perkataan yg perlu diingkari jika berasal dari sebagian orang tertentu, namun akan menjadi perkataan yang benar jika berasal dari orang yang telah memiliki kredibilitas sehingga tidak wajib bagi manusia untuk taqlid kepada seorangpun, dan barang siapa yang mengatakan bahwasanya wajib taqlid kepada Imam yang empat maka ini perkataan yang salah dikarenakan tidaklah wajib taqlid kepada mereka. 

Namun hendaknya pendapat mereka dan pendapat ulama yang lainnya dijadikan sebagai sarana memahami dan hendaknya seseorang itu membaca kitab - kitab mereka dan dalil - dalil yang mereka sebutkan di dalamnya serta bagi penuntut ilmu yang mumpuni hendaklah mengambil faidah darinya. 

Adapun orang yang terbatas ilmunya maka dia bukanlah termasuk yang dapat berijtihad dan kewajibannya hanyalah bertanya kepada ahli fikih, mendalami ilmu agama dan mengamalkan apa yang telah dinasihatkan ahli ilmu kepadanya hingga dia dapat memahami jalan yang telah ditempuh oleh para ulama, mengetahui hadits shohih dan hadits yg dho'if melalui sarana mempelajari ilmu mushtholah hadits dan mengetahui ilmu ushulfikih dan apa yang telah ditetapkan para ulama pada hal tersebut sampai dia dapat mengambil faidah dari sarana ini dan mampu mentarjih masalah yang diperselisihkan manusia.

Adapun yang sudah disepakati oleh para ulama maka masalahnya sudah jelas dan tidak boleh bagi seorangpun untuk menyelisihinya,sedangkan yang perlu diteliti oleh para ahli ilmu adalah perkara yang diperselisihkan para ulama saja dan yang wajib adalah mengembalikan perselisihan tersebut kepada Allah dan Rosul-Nya sebagaimana firman Allah ta'ala :


فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا [النساء : 59]


Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

[ QS An nisa': 59 ]


Allah ta'ala berfirman juga :


وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ [الشورى : 10]


Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali.

[ QS Asy syuro : 15 ]


Adapun jika dia berijtihad padahal tidak mampu untuk itu maka ini termasuk kesalahan yang besar namun hendaknya dia berusaha dengan semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, bersungguh-sungguh, melihat dengan teliti dan meniti jalannya para ahli ilmu. 

Maka inilah jalan untuk ilmu dalam mempelajari hadits dan ushulnya, fikih dan ushulnya, bahasa arab dan kaidah-kaidahnya,siroh Nabi dan sejarah Islam. 

Kemudian dia menggunakan ilmu-ilmu ini untuk menguatkan pendapat yang kuat dalam masalah khilaf dengan tetap berkasih sayang terhadap ahli ilmu, menempuh metode mereka yang baik, menjadikan perkataan dan kitab-kitab karangan mereka yang baik serta penjelasan mereka yang berupa dalil-dalil dan penjelasan mereka dalam menguatkan pendapat mereka dan pembatalan apa yang mereka tolak sebagai alat bantu.


Dengan itu seorang penuntut ilmu akan diberikan taufik untuk mengetahui kebenaran jika dia ikhlas karena Allah dan mencurahkan tenaganya untuk mencari kebenaran serta tidak sombong,wallahu subhanahu waliyyutaufiq. 


🎙️ Majmu'fatawa  wa Maqoolaatu Asy syaikh Ibnu Bazz [ 7/233 ]


Alih bahasa : Juantara

BENARKAH KEBENARAN HANYA DI 4 MADZHAB?

 

Faidah Pertanyaan dan jawaban As syaikh Abdulaziz bin Abdillah bin Bazz rohimahullahu ta'ala 


Hukum membawakan pendapat selain pendapat madzhab yang empat


Presenter :"Pertanyaan :

Dari daerah Irbil, Republik Irak,Pertanyaan melalui surat ini dikirimkan oleh seorang pendengar yang berinisial (Ssa) beliau bertanya dan berkata dalam suratnya :

"Madzhab yang empat : Hanafi, Maliki, Syafi', Hambali adalah merupakan hasil ijtihad fikih dalam masalah agama, kalau memang begitu maka apakah boleh hukumnya bagi ahli fikih  kaum Muslimin untuk membawakan pendapat dari hasil ijtihadnya madzhab selain madzhab yang empat ataukah tidak boleh? Kenapa?


🎙️Jawaban :


Ilmu itu tidak hanya terbatas ada di dalam madzhab yang 4 namun ada juga di madzhab-madzhab selainnya seperti : ulama tabi'in, tabi'uttabi'in,para Imam yang terkenal dari para ahli ilmu selain imam madzhab yang empat seperti Al auza'i, Ats tsauri, Ishaq bin Rohuyah dan para ulama' kibar yang memiliki pendapat dan pengetahuan yang dinukil oleh para ulama. 


Maka bagi orang beriman maksudku adalah para penuntut ilmu yang cerdas seharusnya melihat dalil-dalil jika terjadi perbedaan pendapat dan mengambil pendapat yang  sesuai dengan dalil melalui pendapat para imam yang empat ataupun selain mereka seperti ulamanya para sahabat Nabi, ulama'- ulama tabi'in dan ulama - ulama yang mengikuti mereka dengan baik.


Dan semua itu tidaklah hanya terbatas pada imam yang 4 saja.

Mereka Imam yang 4 adalah termasuk ulama' umat islam dan ulama besar umat islam.Abu hanifah, Asy syafi'i,Malik,Ahmad -rohimahumullah - mereka semua adalah imamnya kaum muslimin dan mereka memiliki keutamaan yang besar dan ilmu yang melimpah.


Namun begitu ilmu tidaklah terbatas hanya ada pada mereka bahkan ada ulama - ulama selain mereka sebagaimana telah disebutkan seperti Ishaq bin Rohuyah yang ma'ruf, Al Auza'i  rohimahullah, Ats tsauri, Ibnu 'Uyainah dan ulama - ulama lainya dari para ulama' Mujtahid yang terkenal yang memiliki kedudukan yang tinggi dan teladan di sisi umat Islam.


Demikian pula para Ulama sebelum mereka dari kalangan Tabi'in seperti Sa'id bin Masayyib, Asy sya'biyy, Thowus dan selain mereka dari para ulama Islam yang telah tenar yang mereka berjumpa dengan para sahabat.

Begitu pula ulama sebelum mereka yang lebih utama ,lebih besar dan lebih diridhoi yaitu para sahabat Nabi Shollallahu alaihi wa sallam dimana mereka memiliki pendapat - pendapat.

Mereka para sahabat memiliki pendapat - pendapat juga yang dinukil oleh para ulama yang dapat digunakan oleh para penuntut ilmu dalam mengenali kebenaran dengan dalil-dalilnya. 


Maka wajib bagi Ahli ilmu dan bashiroh untuk perhatian dalam hal ini dan wajib untuk mengembalikan perselisihan manusia baik ulama madzhab yang empat,para ulama sebelumya ataupun ulama setelahnya kepada dalil - dalil syar-i dari Al quran dan As sunnah sehingga tatkala suatu perkara sesuai dengan dalil dalam masalah khilaf maka wajib untuk mengambil pendapat yang sesuai dengan dalil dari Al quran dan As sunnah dan meninggalkan pendapat yang selainnya meskipun itu adalah pendapat dari imam madzhab yang 4 ataupun selainnya dikarenakan Allah ta'ala berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا [النساء : 59]


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

[ QS An nisa': 59 ]


Maka wajib mengembalikan perselisihan pendapat kepada Al Quran dan As sunnah. 


Allah ta'ala juga berfirman :


وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ [الشورى : 10]


Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali.

(QS Asy Syuro : 10 )


Ini adalah merupakan ijma'para ulama bahwasanya perselisihan pendapat  solusinya adalah dikembalikan kepada Kitab Allah dan Sunnah Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam.

maka pendapat yang sesuai dengan keduanya maka itulah yang haq dan yang menyelisihi keduanya  maka wajib ditinggalkan. 

Adapun membatasi hanya di madHab fikih yang empat dan taqlid kepadanya serta ta'ashahub kepadnya maka itu bukan ciri ahli ilmu. Wallahu waliyyutaufiq. 


Presenter : jazaakumullahu khoiron wa nafa'a bi'ilmikum. 


sumber : https://binbaz.org.sa/fatwas/18728/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%AA%D9%8A%D8%A7%D9%86-%D8%A8%D9%85%D8%B0%D9%87%D8%A8-%D8%A7%D8%AE%D8%B1-%D8%BA%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B0%D8%A7%D9%87%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B1%D8%A8%D8%B9%D8%A9


🖊️ Alih bahasa : Juantara Abdulaziz


Semoga bermanfaat.

DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH TA'ALA

 DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH TA'ALA بسم الله الرحمن الرحيم Allah ta'ala berfirman di dalam Al Quran : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا...